Jumat, 14 April 2017TApril 14, 2017

KASUS ETIKA BISNIS ISLAM

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada tuhan Yang Maha Esa karna berkat kehendaknya penulis dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah ETIKA BISNIS ISLAM Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen dan pihak yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini juga di harapkan dapat menambah pengetahuan kita tentang “KASUS ETIKA BISNIS ISLAM” di Negara kita dan masalah ekonomi yang sering terjadi. Untuk kesempurnaan dari makalah ini ,maka penulis mengharapkan saran kritik dari para pembaca agar dalam menyusun makalah berikutnya dapat lebih baik lagi. Akhirnya dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan kita semua, trimakasih.


                  Probolinggo, 05 November 2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………...........................................................i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….....ii
I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang……………………………………………………………............1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………..1
1.3 Tujuan…………………………………………………………………………….1
II PEMBAHASAN
  2.1 Kasus Etika Bisnis Islam………………………………………………………..2
  2.2 Solusi Kasus Etika Bisnis Islam………………………………………………… 4
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………..5
3.2 Saran……………………………………………………………………………….5
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
Wacana dalam bisnis yang tidak beretika perbincangan tentang “etika bisnis” di sebagian besar paradigma pemikiran pebisnis terasa kontradiksi interminis (bertentangan dalam dirinya sendiri) atau oxymoron ; mana mungkin ada bisnis yang bersih, bukan kah setiap orang yang berani memasuki wilayah bisnis berarti ia harus berani (paling tidak) “bertangan kotor”.
Apalagi ada satu pandangan bahwa masalah etika bisnis sering kali muncul berkaitan dengan hidup matinya bisnis tertentu, yang apabila “beretika” maka bisnisnya terancam pailit. Di sebagian masyarakat yang normative dan hedonistik materialistic, pandangan ini tampaknya bukan merupakan rahasia lagi karena dalam banyak hal ada konotasi yang melekat bahwa dunia bisnis dengan berbagai lingkupnya di penuhi dengan praktik-praktik yang tidak sejalan dengan etika itu sendiri.
Begitu kuatnya oxymoron itu, muncul istilah business ethics atau ethics in busness. Sekitar dasawarsa 1960-an, istilah itu di Amerika Serikat menjadi bahan controversial. Orang boleh saja berbeda pendapat mengenai kondisi moral lingkungan bisnis tertentu dari waktu ke waktu. Tetapi agaknya kontroversi ini bukannya berkembang ke arah yang produktif, tapi malah semakin menjurus ke suasana debat kusir. Maka disini kami akan membahas sedikit tentang kasus etika bisnis islam dan solusinya.
1.2 Rumusan Masalah
  1. Kasus etika bisnis islam
2. Solusi kasus etika bisnis islam
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui dan lebih mendalami pengetahuan tentang kasus etika bisnis Islam  beserta solusinya.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kasus Etika Bisnis Islam
Dalam kaitannya dengan paradigma Islam tentang etika bisnis, maka landasan filosofis yang harus di bangun dalam pribadi muslim adalah adanya konsepsi hubungan manusia dengan manusia dan lingkungan nya, serta hubungan manusia dengan Tuhannya, yang dalam bahasa Agama di kenal dengan istilah (Hablumminallah wa hablumminannas). Dengan berpegang pada landasan ini maka setiap muslim yang berbisnis atau beraktifitas apapun akan merasa ada kehadiran “pihak ketiga” (Tuhan) di setiap aspek hidupnya. Keyakinan ini harus menjadi bagian integral dari setiap muslim dalam berbisnis. Hal ini Karena bisnis dalam Islam tidak semata-mata orientasi dunia tetapi harus punya visi akhirat yang jelas. Dengan karangka seperti itulah maka persoalan etika dalam bisnis menjadi sorotan penting dalam ekonomi Islam.
Dalam ekonomi Islam, bisnis dengan etika tidak harus di pandang sebagai dua hal yang bertentangan, sebab bisnis yang merupakan symbol dari urusan duniwi juga di anggap sebagai bagian integral dari hal-hal yang bersifat investasi akhirat. Artinya jika orientasi bisnis dan upaya investasi akhirat (di niatkan sebagai ibadah dan merupakan totalitas kepatuhan kepada Tuhan), maka bisnis dengan sendirinya harus sejalan dengan kaidah-kaidah moral yang berlandasan dengan keimanan kepada akhirat.
Bahkan dalam Islam, pengertian bisnis itu sendiri tidak di batasi urusan duniawi, tatapi mencakup pula seluruh kegiatan kita di dunia yang “di bisniskan” (di niatkan sebagai ibadah) untuk meraih keuntungan atau pahala akhirat. Stetemen ini secara tegas di sebut dalam salah satu ayat Al-qur’an. Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan pada suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab pedih? yaitu beriman kepada Allah & Rosulnya dan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Di sebagian masyarakat kita, seringkali terjadi interpretasi yang keliru terhadap teks Al-qur’an tersebut, sekilas nilai Islam ini seolah menundukkan urusan duniawi kepada akhirat sehingga mendorong komunitas muslim untuk berorientasi akhirat dan mengabaikan jatah dunianya, pandangan ini tentu saja keliru.
Dalam konsep Islam, sebenarnya Allah telah menjamin bahwa orang yang bekerja keras mencari jatah dunianya dengan tetap mengindahkan kaidah-kaidah akhirat untuk memperoleh kemenangan duniawi, maka ia tercatat sebagai hamba Tuhan dengan memiliki keseimbangan tinggi. Sinyalemen ini pernah menjadi kajian serius dari salah seorang tokoh Islam seperti Ibnu Arabi, dalam sebuah pernyataannya. “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan Al-qur’an yang di terapkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makna dari atas mereka (akhirat) dan dari bawah kaki mereka (dunia). “Logika Ibnu Arabi itu, setidaknya mendapatkan penguatan baik dari hadits maupun di dunia ekonomi, sebagaimana nabi SAW bersabda : barang siapa yang mengiginkan dunia, maka hendaknya dia berilmu, dan barang siapa menginginkan akhirat maka hendaknya dia berilmu, dan barang siapa mereka menghendaki ke duanya maka hendaknya dia berilmu”.
Pernyataan nabi tersebut mengisaratkan dan mengefirmasikan bahwa di samping persoalan etika yang menjadi tumpuan kesuksesan dalam bisnis juga ada factor lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu skill dan pengetahuan tentang etika itu sendiri. Gagal mngetahui pengetahuan tentang etika maupun prosedur bisnis yang benar secara Islam maka akan gagal memperoleh tujuan. Jika ilmu yang di bangun untuk mendapat kebahagiaan akhirat juga harus berbasis etika, maka dengan sendirinya ilmu yang di miliki oleh siapapun dalam melakukan aktifitas apapun (termasuk bisnis) maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus.
Dari sudut pandang dunia bisnis kasus jepang setidaknya telah membuktikan keyakinan ini, bahwa motivasi perilaku ekonomi yang memiliki tujuan lebih besar dan tinggi (kesetiaan pada norma dan nilai etika yang baik) ketimbang bisnis semata, ternyata telah mampu mengungguli pencapaian ekonomi barat (seperti Amerika) yang hampir semata-mata di dasarkan pada kepentingan diri dan materialisme serta menafikan aspek spiritualisme. Jika fakta empiris ini masih bisa di perdebatkan dalam penafsirannya, kita bisa mendapatkan bukti lain dari logika ekonomi lain di negara China, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pengamat Islam, bahwa tidak semua pengusaha China perantauan mempunyai hubungan pribadi dengan pejabat pemerintah yang berpeluang KKN, Pada kenyataan nya ini malah mendorong mereka untuk bekerja lebih keras lagi untuk menjalankan bisnisnya secara professional dan etis, sebab tak ada yang bisa di harapkan kecuali dengan itu, itulah sebabnya barang kali kenapa perusahaan-perusahaan besar yang dahulunya tidak punya skill khusus, kini memiliki kekuatan manajemen dan prospek yang lenih tangguh dengan dasar komitmen pada akar etika yang di bangunnya.
2.2 Solusi Kasus Etika Bisnis Islam
Demikianlah, satu ilustrasi komperatif tentang prinsip moral Islam yang di dasarkan pada keimanan kepada akhirat, yang di harapkan dapat mendorong prilaku positif di dunia, anggap lah ini sebagai prinsip atau filsafah moral Islam yang bersifat eskatologis, lalu pertanyaan lebih lanjut apakah ada falsafah moral Islam yang di harapkan dapat mencegah prilaku curang muslim, jelas ada, Al-qur’an sebagaimana Adam Smith mengaitkan sistem ekonomi pasar bebas dengan “hukum kodrat tentang tatanan kosmis yang harmonis”. Mengaitkan kecurangan mengurangi timbangan dengan kerusakan tatanan kosmis, Firmannya : “Kami telah menciptakan langit dan bumi dengan keseimbangan, maka jangan lah mengurangi timbangan tadi”.
Jadi bagi Alqur’an curang dalam hal timbangan saja sudah di anggap sama dengan merusak keseimbangan tatanan kosmis, apalagi dengan mendzalimi atau dengan membunuh orang lain merampas hak kemanusiaan orang lain dalam sector ekonomi. Firman Allah : “Jangan lah kamu membunuh jiwa, barang siapa membunuh satu jiwa maka seolah dia membunuh semua manusia”.
 


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sekali lagi anggaplah ini sebagai falsafah moral islam jenis kedua yang di dasarkan pada tatanan kosmis alam. Mungkin kata hukum kodrat atau tatanan kosmis itu terkesan bersifat matefisik, suatu yang sifatnya debatable, tapi bukankah logika ilmu ekonomi tentang teori keseimbangan pun sebenarnya mengimplikasikan akan niscayanya sebuah “keseimbangan” (apapun bentuknya bagi kehidupan ini), seringkali ada anggapan bahwa jika sekedar berlaku curang di pasar tidak turut merusak keseimbangan alam, karena hal itu di anggap spele, tetapi jika itu telah berlaku umum dan jumrah di mana-mana dan lama kelamaan berubah menjadi semacam norma juga, maka jelas kelumrahan perilaku orang itu akan merusak alam, apalagi jika yang terlibat adalah orang-oarang yang punya peran tanggung jawab yang amat luas menyangkut nasib hidup banyak orang dan juga alam keseluruhan.
3.2 Saran
Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan ini setiap manusia memang seringkali mengalami ketegangan atau dilema etis antara harus memilih keputusan etis dan keputusan bisnis sempit semata sesuai dengan lingkup dan peran tanggung jawabnya, tetapi jika kita percaya sabda Nabi SAW, atau logika ekonomi di atas, maka percayalah, jika kita memilih keputusan etis maka pada hakikat nya kita juga sedang meraih bisnis.

DAFTAR PUSTAKA
Permadi-duta.blogspot.com/2009/11…
Prof.Dr.H.Buchari Alma. 2010. Pengantar Bisnis. Bandung : Alfabeta

Tag : artikel
0 Komentar untuk "KASUS ETIKA BISNIS ISLAM"

Back To Top