Selasa, 11 April 2017TApril 11, 2017

makalah peradaban islam

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kekuatan dan keteguhan hati kepada kami untuk menyelesaikan makalah  ini. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi tauladan para umat manusia yang merindukan keindahan syurga.
Kami menulis makalah ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui Ilmu tentang Sejarah Peradaban Islam yang diberikan oleh dosen mengenai Peradaban Masa Abu Bakar.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan kurangnya ilmu pengtahuan. Namun, berkat kerjasama yang solid dan kesungguhan dalam menyelesaikan makalah ini, akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
            Kami menyadari, sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya tidak seberapa yang masih perlu belajar dalam penulisan makalah, bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi, serta berdayaguna di masa yang akan datang.
            Besar harapan, mudah-mudahan makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat dan maslahat bagi semua orang.







    
DAFTAR ISI

   KATA PENGANTAR                                                                             
   Daftar Isi                                                                                                                
   BAB I : PENDAHULUAN                                                                                  
1.1    Latar Belakang                                                                                           
1.2    Rumusan Masalah                                                                           

   BAB II : PEMBAHASAN                                                                                   
       2.1  Peradaban Pada Masa Abu Bakar                                                   
           A. Pembentukan Khilafah                                                                  
           B. Sistem Pemerintahan                                                                                  
           C. Kemajuan Pada Masa Abu Bakar                                                  
           D. Meninggalnya Abu Bakar                                                              
   BAB III : PENETUP                                                                                            
       3.1 Kesimpulan                                                                                       
   DAFTAR PUSTAKA                                                                                          










BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

       Sejarah adalah suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang masa depan.

       Pemerintahan pada Masa Abu Bakar merupakan pemimpin ummat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu dimana sistem pemerintahan pada Masa Abu Bakar yang diterapkan adalah pemerintahan yang Islami karena berundang-undangkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

       Abu Bakar sebagai Khulafa Ar-Rhasyidin yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad kiranya pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Dari mulai cara pembentukan sebagai khalifah, sistem pemerintan, kemajuan serta peradaban dan lain sebagainya.

       Dalam memahami sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah sebuah barang mati yang tidak dapat dirubah. Akan tetapi sejarah bisa saja dirubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat melakukan rekonstruksi sejarah.

1.2    Rumusan Masalah
     2.1 Peradaban Pada Masa Abu Bakar
A.    Pembentukan Khilafah Abu Bakar
B.     Sistem Pemerintahan Abu Bakar
C.     Kemajuan Pada Masa Abu Bakar
D.    Meninggalnya Abu Bakar



BAB II
PEMBAHASAN
   2.1 Peradaban Masa Abu Bakar
       Abu Bakar Ash-Shiddiq dilahirkan pada tahun 573 M. Beliau dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar.
       Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam.
       Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan satu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah penghimpun Al-Quran. Abu Bakar Ash-Shiddiq memrintahkan kepada Zaid Bin Tsabit untuk menghimpun Al-Quran dari pelepah kurma, kulit binatang, dan dari hafalan kaum muslimin. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kelestarian Al-Quran setelah syahidnya bebrapa orang penghafal Al-Quran pada perang Yamamah. Umarlah yang mengusulkan pertama kali penghimpun Al-Quran ini. Sejak itulah Al-Quran dikumpulkan dalam satu mushaf. Inilah untuk pertama kalinya Al-Quran dihimpun.

A.    Pembentukan Khilafah

       Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Ia nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat; belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa'idah, Madinah.

       Dibalik wafatnya Rasulullah ternyata kaum Anshar sedang gencar-gencarnya membicarakan pengganti Rasulullah, sementara jasad beliau belum dimakamkan. Mereka beranggapan bahwa yang layak menjadi pengganti Rasulullah adalah dari kalangan Anshar karna jumlah mereka yang paling banyak.

         Sungguh menarik prakarsa pembentukan khilafah justru atas inisiatif kaum Anshar yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj merupakan penduduk asli Madinah. Kondisi demikian disebabkan oleh dua faktor, yaitu pertama, kaum Anshar adalah penduduk asli Madinah  yang banyak menolong Nabi SAW dan kaum muslimin dari Mekkah. Sedangkan faktor kedua, adalah sense of crisis (kepekaan terhadap krisis) yang dimiliki kaum Anshar dalam menyikapi kekosongan kepemimpinan, yaitu hilangnya kontrol atau kendali atas pengaruh syiar Islam pada diri kaum mislimin yang terbesar diberbagai suku dikota Mekkah, Madinah dan sebagian kecilnya Jazirah Arab. Ketika kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah terjadi perdebatan tentang calon khalifah. Masing-masing mengajukan argumentsainya tentang siapa yang layak menjadi khalifah.   

       Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat Ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu terpilih. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membai’atnya.

Setelah Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah, Abu Bakar kemudian menyampaikan pidato yang memuat pernyataan antara lain:
1.      Abu Bakar mengakui dirinya, bahwa bukanlah orang yang terbaik.
2.      Beliau meminta dukungan dan bantuan selama dirinya berbuat baik dan harus diluruskan bila dirinya berbuat tidak baik.
3.      Beliau akan memberikan hak setiap orang tanpa membedakan yang kuat dengan yang lemah.
4.      Ketaatan beliau tergantung pada ketaatannya kepada Allah.
       Dalam sejarah disebutkan bahwa setelah Abu Bakar selesai dibai’at di Saqifah, jenazah Rasulullah masih terbujur kaku dirumahnya Aisyah. Di sekeliling beliau ada keluarga seperti Ali Bin Abi Thalib, Abbas Ibnu Muthalib dan beberapa orang yang mengurus janazah, kemudian dimakamkanlah janazah Rasulullah yang dipimpin oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
       Fenomena menarik dari proses pembai’atan Abu Bakar, bahwa isu untuk menjaga persatuan dan menghindarkan perpecahan dikalangan umat Islam saat itu menjadi argumentasi Abu Bakar untuk meyakinkan kekhalifahannya.  Hal itu ditandai dengan munculnya orang-orang murtad, keengganan sejumlah suku membayar zakat dan pajak.

B.     Sistem Pemerintahan
       Kebijakan sosial yang dilakukan Abu Bakar untuk menciptakan stabilitas wilayah Islam yaitu dengan tindakan pembersihan dan tindakan pembebasan. Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah ( pengganti Nabi ) sebagaimana dijelaskan pada peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah, merupakan bukti bahwa Abu Bakar menjadi Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah, maka memulailah beliau dengan kekhalifahannya, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai pemimipin pemerintah. Tampaknya sistem politik Islam yang dijalankan masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah, bersifat sentral, kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanankan hukum. Meskipun demikian, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya untuk bermusyawarah.
       Sistem pemilihan kepala Negara dizaman Abu Bakar yaitu dengan menggunakan sistem musyawarah karna sistem musyawarah merupakan sistem yang paling baik dan sempurna dari pada segala cara yang dilakukan dengan kemampuan manusia yang berfikir maju sampai zaman sekarng. Sedangkan kebijakan yang dicapai untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan perekonomian, Abu Bakar membentuk lembaga “Baitul Mal”, semacam kas Negara atau lembaga keuangan. Pengelolaannya diserahkan kepada Abu Ubaidah, sahabat Nabi SAW yang digelari “Amin Al-Ummah” (kepercayaan umat).
       Selama pemerintahan Abu Bakar, harta Baitul Mal tidak pernah menumpuk dalam jangka waktu yang lama karna langsung didistribusikan kepada seluruh kaum muslimin, bahkan ketika Abu Bakar wafat, hanya ditemukan satu dirham dalam pembendaharaan Negara. Apabila pendapatan meningkat, seluruh kaum muslimin mendapat manfaat yang sama dan tidak ada seorangpun yang dibiarkan dalam kemiskinan. Kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan pendapatan nasional, disamping memperkecil jurang pemisah antara orang-orang yang kaya dengan yang miskin.

C.     Kemajuan Pada Masa Abu Bakar
       Kemajuan yang telah dicapai pada masa Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun yaitu, dengan perluasan dan pengembangan wilayah Islam yang ditempuh dengan melakukan usaha perluasan wilayah keluar Jazirah Arab.
       Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Kedua daerah itu menurut Abu Bakar harus ditaklukkan dengan tujuan untuk memantapkan keamanan wilayah Islam dari serbuan Persia dan Bizantium. Untuk ekspansi ke Irak dipimpin oleh Khalid Bin Walid, sedangkan ke Suriah dipimpin tiga panglima yaitu : Amr Bin Ash, Yazid Bin Abu Sufyan dan Surahbil Bin Hasanah.
       Sedangkan usaha yang ditempuh untuk pengumpulan ayat-ayat Al-Quran adalah atas usul dari sahabat Umar Bin Khattab yang merasa khawatir kehilangan Al-Quran setelah para sahabat yang hafal Al-Quran banyak yang gugur dalam peperangan, terutama waktu memerangi para Nabi palsu.
       Alasan lain karena ayat-ayat Al-Quran banyak berserakan ada yang ditulis pada daun, kulit kayu, tulang dan sebagainya. Hal ini dikhawatirkan mudah rusak dan hilang. Atas usulnya Umar Bin Khattab tersebut pada awalnya Abu Bakar agak berat melaksanakan tugas tersebut, karna belum pernah dilaksanakan pada Masa Nabi Muhammad SAW. Namun karena alasan Umar yang rasional yaitu banyaknya sahabat penghafal Al-Quran gugur dimedan pertempuran dan dikhawatirkan akan habis seluruhnya, akhirnya Abu Bakar menyetujuinya, dan selanjutnya menugaskan kepada Zaid Bin Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW, untuk mengerjakan tugas pengumpulan itu.
       Kemajuan yang diemban sebagai kepala Negara dan pemimipin umat Islam, Abu Bakar senantiasa meneladani perilaku Rasulullah SAW. Bahwa prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW selalu dipraktekkannya. Ia sangat memperhatikan keadaan rakyatnya dan tidak segan-segan membantu mereka yang kesulitan. Terhadap sesama sahabat juga sangat besar perhatiannya.
       Sahabat yang telah menduduki jabatan pada masa Nabi Muhammad SAW tetap dibiarkan pada jabatannya, sedangkan sahabat yang lain yang belum mendapatkan jabatan dalam pemerintahan juga diangkat berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Selain itu didirikan pula lembaga peradilan yang ketuanya dipercayakan kepada Umar Bin Khattab.
       Persoalan besar yang sempat diselesaikan Abu Bakar sebelum wafat adalah menetapkan calon khalifah yang akan menggantikannya. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan dikalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut diterima masyarakat yang secara beramai-ramai membai’at Umar. Dengan demikian ia telah mempersempit peluang bagi timbulnya pertikaian di antara umat Islam mengenai jabatan khalifah. Dalam menetapkan calon penggantinya Abu Bakar tidak memilih anak atau kerabatnya yang terdekat, melaikan memilih orang lain yang secara obyektif dinilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai khalifah, yaitu sahabat Umar Bin Khattab.  
D.    Meninggalnya Abu Bakar
       Tatkala Abu Bakar merasa kematiannya telah dekat dan sakitnya semakin parah, Abu Bakar ingin untuk memberikan kekhalifaannya kepada seseorang sehingga diharapkan manusia tidak banyak terlihat konflik, jatuhlah pilihan kepada Umar Bin Khattab. Abu Bakar meminta pertimbangan sahabat-sahabat senior. Mereka semua mendukung pilihan Abu Bakar. Abu Bakar pun menulis wasiat untuk itu, lalu Abu Bakar membai’at Umar. Beberapa hari setelah Abu Bakar menderita sakit selama lima belas hari, Abu Bakar pun wafat pada hari Senin tanggal 23 Agustus 624 M / tanggal 21 Jumadil Akhir 13 H.
       Abu Bakar dimakamkan di rumah Aisyah, di samping makam Rasulullah SAW di kota Madinah.





















BAB III
PENUTUP
       Demikianlah makalah yang kami susun dengan menganalisa dari berbagai sumber kepustakaan yang sudah kami pelajari. Kami sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Hal ini dikarnakan minimnya buku refrensi yang kami pelajari, serta keterbatasan dan pengalaman yang kami miliki. Untuk itu, saran dan kritik yang kami harapkan guna perbaikan dalam penyusun berikutnya.
       Akhirnya tiada ganding yang tak retak, seperti halnya tiada manusia tanpa salah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi khalayak pada umumnya.
   3.1 Kesimpulan
              Pemerintahan Abu Bakar Punya jati diri sendiri serta pembentukannya yang sempurna, mencakup kebesaran jiwa yang sungguh luar biasa, bahkan sangat menakjubkan. Kita sudah melihat betapa tingginya kesadaran Abu Bakar terhadap prinsip-prinsip yang berpedoman pada Al-Quran sehingga ia dapat memastikan untuk menanamkan pada dirinya batas antara kebenaran untuk kebenaran dengan kebohongan untuk kebenaran.
       Prinsip-prinsip dalam Islam, dilukiskan Abu Bakar dengan mendorong kaum muslimin memerangi orang-orang yang ingin menghancurkan Islam seperti halnya orang-orang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat, dan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Oleh karna itu Abu Bakar melaksanakan perang riddah untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran.
       Perjuangan Abu Bakar tidak hanya sampai disitu, ia juga melakukan peperangan demi kemajuan Islam. Bahkan ia tidak hanya mengorbankan jiwanya, hartanya pun ia korbankan demi Islam. Sampai pada akhir menjelang wafatnya pun peperangan belum terselesaikan, akan tetapi ia sempat memilih Umar Bin Khattab sebagai penggantinya dengan meminta persetujuan dari kalangan sahabat.





DAFTAR PUSTAKA
A. Hasymy, (1989). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Penerbit: PT. Al-Ma’arif, Bandung, Cet. II.
A. Majul, Caesar, (1989). Dinamika Islam Filipina, Penerbit: LP3ES, Jakarta.
Abdullah, (1992). Sejarah Umat Islam Indonesia, Penerbit: Majelis Ulama Indonesia, Jakarta.
Abdurrahman, Dudung, (2004). Sejarah Peradaban Islam, Terbitan: LESFI. Yogyakarta.
Anshari, Endang Saifuddin, (1979). The Jakarta Chartier 1945, Terbitan: Kuala Lumpur Muslim Youth Movement of Malaysia.
Azra, Azyumardi, (1989). Perspektif  Islam di Asia Tenggara, Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Cet. I.


Tag : makalah
0 Komentar untuk "makalah peradaban islam"

Back To Top