Rabu, 17 Mei 2017TMei 17, 2017

akad dalam fiqih muamalah

KATA PENGANTAR
            Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul AKAD, penulisan makalah ini di ajukan untuk memenuhi mata kuliah FIQIH MU’AMALAH.
            Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat untuk membangun kemajuan pendidikan di masa yang akan datang. Dalam kesempatan ini penulis dengan senang hati mengucapkan trima kasih kepada yang terhormat “Bapak Syaifuddin Syuhri,S.Ag,M.E.I” yang telah memberikan bimbingan serta dorongan pada proses penulisan makalah ini.
            Akhirnya semoga segala bantuan yang telah di berikan, sebagai amal soleh senantiasa mendapatkan ridho Allah SWT, sehingga pada akhirnya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

                 
 Probolinggo, 06 Mei 2016
Penulis,



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………...........................................................i
DAFTAR ISI…………………………………………………………...……………………..ii
   I. PENDAHULUAN
     1.1 Latar Belakang………………………………………………………...….....................1
     1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………...…...………….1
     1.3 Tujuan……………………………………………………………………...…………...1
   II. PEMBAHASAN
     2.1 Pengertian Akad………………………………………………………………………..5
     2.2 Syarat-syarat Akad……………………………………………………………..………6
     2.3 Rukun-rukun Akad…………………………………………………………………..…7
     2.4 Macam-macam Akad…………………………………………………………………..9
     2.5 Berakhirnya Akad…………………………………………………………………….10
   III. PENUTUP
     3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………11
     3.2 Saran…………………………………………………………………………………..11
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas untuk berhubungan dengan orang lain dalam karangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan manusia sangat beragam, sehingga terkadang secara pribadi ia tidak mampu untuk memenuhinya, dan harus berhubungan dengan orang lain.
Hubungan antar satu manusia dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan hak dan kewajiban keduanya berdsarkan kesepakatan. Proses untuk membuat kesepakatan dalam karangka memenuhi kebutuhan keduanya, lazim di sebut dengan proses untuk berakad atau melakukan kontrak.
Hubungan ini merupakan fitrah yang sudah di takdirkan oleh Allah. Karena itu ia merupakan kebutuhan sosial sejak manusia mulai mengenal arti hak milik. Islam sebagai agama yang komprehensif  dan universal memberikan aturan yang cukup jelas dalam akad untuk dapat di implementasikan dalam setiap masa.
Begitupun dalam menjalankan bisnis, satu hal yang sangat penting adalah masalah akad (perjanjian). Akad sebagai salah satu cara untuk memperoleh harta dalam syari’at Islam yang banyak di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu dalam makalah ini akan di jelaskan beberapa mengenai Akad.
1.2  Rumusan Masalah
1. Pengertian Akad 
2. Syarat & Rukun Akad
3. Macam-macam Akad
4. Berakhirnya Akad
1.3  Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Akad 
2. Untuk Memahami Syarat & Rukun Akad
3. Untuk Mengetahui Macam-macam Akad
4. Dan Untuk Mengetahui Berakhirnya Akad

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Akad
Akad (transaksi) boleh dikatakan terjadi dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan muamalat. Akad sendiri berasal dari bahasa arab al aqdu yang berarti: perikatan, perjanjian dan pemufakatan.
Akad adalah suatu perikatan antara ijab dan kabul dengan cara yang dibenarkan syarak yang menetapkan adanya akibat- akibat hukum pada objeknya. Ijab adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang diinginkan, sedang kabul adalah pernyataan pihak kedua untuk menerimanya.
Didalam islam, semua transaksi yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan syari’at, tidak boleh ada kesepakatan untuk menipu orang lain. Transaksi barang– barang yang diharamkan dan kesepakatan untuk membunuh seseorang. Kemudian menurut Mustafa az- zarqa’, tindakan yang berupa perkata’an dibagi menjadi dua, yaitu: tindakan yang bersifat akad dan tindakan yang tidak bersifat akad. Lebih lanjut Mustafa az- zarqa’ menyatakan, bahwa tindakan hukum hukum lebih umum dari akad, sebab setiap akad dilakukan sebagai tindakan hukum dari dua belah pihak, tetapi sebaliknya setiap tindakan hukum tidak dapat disebut sebagai akad.
Menurut Mustafa az– zarqa’, dalam pandangan syara’ suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak yang sama– sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak atau keinginan pihak- pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati, karena itu untuk menyatakan keinginan masing– masing diungkapkan dalam suatu pernyataan– pernyataan, inilah yang kemudian disebut sebagai ijab dan kabul. Pelaku (pihak) pertama disebut mujib dan pelaku (pihak) kedua disebut qaabil. Dalam istilah fiqih ijab dan kabul ini disebut sighah al- aqd, yaitu ungkapan atau pernyataan akad.
Berdasarkan pengertian akad diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan akad adalah untuk mengetahui jenis transaksi yang akan dilakukan oleh kedua pihak serta untuk menimbulkan rasa suka rela atas transaksi yang mereka lakukan.

Dan apabila akad harus mempunyai tujuan agar akad itu dapat dipandang sah dan mempunyai akibat- akibat hukum, diperlukan adanya syarat- syarat tujuan sebagai berikut:
a. Tujuan akad tidak merupakan kewajiban yang telah ada atas pihak- pihak yang bersangkutan tanpa akad yang diadakan.
b. Tujuan harus berlangsung adanya hingga berakhirnya pelaksanaan akad.
c. Tujuan akad harus dibenarkan syarak.
2.2 Syarat-ayarat akad
1). Ada beberapa syarat yang harus terdapat dalam aqad, namun dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a.  Syarat umum, yaitu syarat-syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam segala macam aqad.
b. Syarat khusus, yaitu syarat-syarat yang disyaratkan wujudnya dalam sebagian aqad, tidak dalam sebagian yang lain. Syarat-syarat ini biasa juga disebut syarat tambahan (syarat idhafiyah) yang harus ada disamping syarat-syarat umum, seperti adanya saksi,untuk terjadinya nikah,tidak boleh adanya ta’liq dalam aqad muwadha dan aqad tamlik, seperti jual beli dan hibah.
2). Sedangkan syarat-syarat yang harus terdapat dalam segala macam aqad adalah:
a. Ahliyatul ‘aqidaini (kedua pihak yang melakukan aqad cakap bertidak atau ahli)
b.Qabiliyatul mahallil aqdi li hukmihi (yang dijadikan objek aqad dapat menerima hukuman )
c. Al-wilyatus syar’iyah fi maudhu’il aqdi (aqad itu diizinkan oleh syara dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya).
d. Alla yakunal’aqdu au madhu’uhu mamnu’an binashshin syar’iyin (janganlah aqad itu yang dilarang syara)
e.Kaunul aqdi mufidan (akad itu memberi faidah)
f.  Ittihatul majlisil aqdi (bertemu dimajlis akad)[1]
2.3 Rukun-Rukun akad
            Rukun-Rukun Akad sebagai berikut:
1). ‘Aqid, adalah orang yang berakad (subjek akad); terkadang masing-masing pihak terdiri dari salah satu orang, terkadang terdiri dari beberapa orang. Misalnya, penjual dan pembeli beras di pasar biasanya masing-masing pihak satu orang; ahli waris sepakat untuk memberikan sesuatu kepada pihak yang lain yang terdiri dari beberapa orang.
2).  Ma’qud ‘alaih, adalah benda-benda yang akan diakadkan (objek akad), seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah atau pemberian, gadai, dan utang.
Ma’qud ‘Alaih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
a) Obyek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.
b) Obyek transaksi harus berupa mal mutaqawwim (harta yang diperbolehkan syara’ untuk ditransaksikan) dan dimiliki penuh oleh pemiliknya.
c) Obyek transaksi bisa diserah terimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan dikemudian hari.
d) Adanya kejelasan tentang obyek transaksi.
e) Obyek transaksi harus suci, tidak terkena najis dan bukan barang najis.
3). Maudhu’ al-‘aqd adalah tujuan atau maksud mengadakan akad. Berbeda akad maka berbedalah tujuan pokok akad. Dalam akad jual beli misalnya, tujuan pokoknya yaitu memindahkan barang dari penjual kepada pembeli dengan di beri ganti.
4).  Shighat al-‘aqd, yaitu ijab kabul. Ijab adalah ungkapan yang pertama kali dilontarkan oleh salah satu dari pihak yang akan melakukan akad, sedangkan kabul adalah peryataan pihak kedua untuk menerimanya. Pengertian ijab kabul dalam pengalaman dewasa ini ialah bertukarnya sesuatu dengan yang lain sehingga penjual dan pembeli dalam membeli sesuatu terkadang tidak berhadapan atau ungkapan yang menunjukan kesepakatan dua pihak yang melakukan akad, misalnya yang berlangganan majalah, pembeli mengirim uang melalui pos wesel dan pembeli menerima majalah tersebut dari kantor pos.[2]
Dalam ijab kabul terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, ulama fiqh menuliskannya sebagai berikut:
a. Adanya kejelasan maksud antara kedua belah pihak.
b. Adanya kesesuaian antara ijab dan kabul
c. Adanya satu majlis akad dan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tidak menunjukan penolakan dan pembatalan dari keduanya.
d. Menggambarkan kesungguhan kemauan dari pihak-pihak yang bersangkutan,tidak terpaksa,dan tidak karena di ancam / ditakut-takuti oleh orang lain karena dalam tijarah harus saling merelakan.
Ijab kabul akan dinyatakan batal apabila :
a. Penjual menarik kembali ucapannya sebelum terdapat kabul dari si pembeli.
b. Adanya penolakan ijab dari si pembeli.
c. Berakhirnya majlis akad. Jika kedua pihak belum ada kesepakatan, namun keduanya telah pisah dari majlis akad. Ijab dan kabul dianggap batal.
d.  Kedua pihak atau salah satu, hilang kesepakatannya sebelum terjadi kesepakatan.
e.  Rusaknya objek transaksi sebelum terjadinya kabul atau kesepakatan.
Mengucapkan dengan lidah merupakan salah satu cara yang ditempuh dalam mengadakan akad, tetapi ada juga cara lain yang dapat menggambarkan kehendak untuk berakad. Para ulama fiqh menerangkan beberapa cara yang ditempuh dalam akad, yaitu :
1) Dengan cara tulisan (kitabah), misalnya dua ‘aqid berjauhan tempatnya, maka ijab kabul boleh dengan kitabah. Atas dasar inilah para ulama membuat kaidah: “Tulisan itu sama dengan ucapan”.
2)  Isyarat. Bagi orang-orang tertentu akad tidak dapat dilaksanakan dengan ucapan atau tulisan, misalnya seseorang yang bisu tidak dapat mengadakan ijab kabul dengan bahasa, orang yang tidak pandai tulis baca tidak mampu mengadakan ijab kabul dengan tulisan. Maka orang yang bisu dan tidak pandai tulis baca tidak dapat melakukan ijab kabul dengan ucapan dan tulisan. Dengan demikian, kabul atau akad dilakukan dengan isyarat. Maka dibuatkan kaidah sebagai berikut: “Isyarat bagi orang bisu sama dengan ucapan lidah”.
2.4 Macam-macam Akad
Para ulama fiqh mengemukakan bahwa akad itu dapat dibagi dan dilihat dari beberapa segi. Jika dilihat dari keabsahannya menurut syara’, akad di bagi menjadi dua, yaitu:
1. Akad Shahih, adalah akad yang telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Hukum dari akad shahih ini adalah berlakunya seluruh akibat hukum yang ditimbulkan akad itu dan mengikat pada pihak-pihak yang berakad.
2. Akad yang tidak Shahih, adalah akad yang terdapat kekurangan pada rukun atau syarat-syaratnya, sehinga seluruh akibat hukum akad itu tidak berlaku dan tidak mengikat pihak-pihak yang berakad.
Akad Shahih di bagi lagi oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah menjadi dua macam, yaitu:
a)  Akad yang nafiz (sempurna untuk dilaksanakan), adalah akad yang dilangsungkan dengan memenuhi rukun dan syaratnya dan tidak ada penghalang untuk melaksanakannya.
b) Akad mawquf, adalah akad yang dilakukan seseorang yang cakap bertindak hukum, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan untuk melangsungkan dan melaksanakan akad ini, seperti akad yang dilangsungkan oleh anak kecil yang mumayiz.
Jika dilihat dari sisi mengikat atau tidaknya jual beli yang sahih itu, para ulama fiqh membaginya kepada dua macam, yaitu:
1. Akad yang bersifat mengikat bagi pihak-pihak yang berakad, sehingga salah satu pihak tidak boleh membatalkan akad itu tanpa seizin pihak lain, seperti akad jual beli dan sewa-menyewa.
2. Akad yang tidak bersifat mengikat bagi pihak-pihak yang berakad, seperti akad al-wakalah(perwakilan), al-ariyah (pinjam-meminjam), dan al-wadhi’ah (barang titipan).
Akad yang tidak Shahih di bagi lagi oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah menjadi dua macam, yaitu:
a) Akad batil ialah akad yang tidak memenuhi salah satu rukunnya atau ada larangan langsung dari syara’. Misalnya, objek jual beli itu tidak jelas. Atau terdapat unsaur tipuan, seperti menjual ikan dalam lautan, atau salah satu pihak yang berakad tidak cakap bertindak hukum.
b)  Akad fasid ialah akad yang pada dasarnya disyariatkan, akan tetapi sifat yang diakadkan itu tidak jelas. Misalnya, menjual rumah atau kendaraan yang tidak ditunjukkan tipe, jenis, dan bentuk rumah yang akan dijual, atau tidak disebut brand kendaraan yang dijual, sehingga menimbulkan perselisihan antara penjual dan pembeli.
Ulama fiqh menyatakan bahwa akad batil dan akad fasid mengandung esensi yang sama, yaitu tidak sah dan akad itu tidak mengakibatkan hukum apapun.
2.5 Berakhirnya Akad
1. Berakhirnya masa berlaku akad itu, apabila akad itu mempunyai tenggang waktu.
2. Dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad, apabila akad itu sifatnya tidak mengikat.
3. Dalam akad yang bersifat mengikat, suatu akad dapat dianggap berakhir jika:
a) Jual beli itu fasad, seperti terdapat unsur-unsur tipuan salah satu rukun atau syaratnya tidak terpenuhi.
b) Berlakunya khiyar syarat, aib, atau rukyat.
c)  Akad itu tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak
d)  Tercapainya tujuan akad itu sampai sempurna.
4. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.[3]


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Akad adalah suatu ikatan antara ijab dan kabul dengan cara yang dibenarkan syarak yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada objeknya. Ijab adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang diinginkan, sedang kabul adalah pernyataan pihak kedua untuk menerimanya. Tujuan akad adalah untuk mengetahui jenis transaksi yang akan dilakukan oleh kedua pihak serta untuk menimbulkan rasa suka rela atas transaksi yang mereka lakukan.
3.2 Saran
            Alangkah baiknya jika hendak melakukan transaksi, kita mempelajari atau mengetahui terlebih dahulu mengenai beberapa pengertian akad, karna dengan begitu kita bisa mengetahui jenis transaksi yang akan di lakukan bersama pihak ke dua dengan baik dan benar. 
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy Prof.DR.Teungku  Muhammad Hasbi. 2009. Pengantar Fikih Muamalah. Semarang : Pustaka Riski Putra.
Djuwaini Dimyauddin. 2010.Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Kencana.
Shiddieqy Hasbi Ash. 1997.Pengantar Fiqh Muamalah. Jakarta: Bulan Bintang.




[1] Di ambil dari Prof.DR. Teungku  Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, pengantar fikih muamalah. Pustaka Riski Putra, Semarang.2009.hal.29-30
[2] Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Kencana:2010), hlm.51.                             
[3] Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), hlm.30.   
Tag : makalah
0 Komentar untuk "akad dalam fiqih muamalah"

Back To Top