Kamis, 18 Mei 2017TMei 18, 2017

konsep dasar kewirausahaan

KATA PENGANTAR
           Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kekuatan dan keteguhan hati kepada kami untuk menyelesaikan makalah  ini. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi tauladan para umat manusia yang merindukan keindahan syurga.
Kami menyelesaikan tugas ini yang berjudul KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN. Tugas ini di Ajukan guna untuk memenuhi tugas mata kuliyah KEWIRAUSAHAAN. Besar harapan kami, mudah-mudahan tugas yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat dan maslahat bagi semua orang.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………................................................................i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..ii
   I. PENDAHULUAN         
            1.1 Latar Belakang………………………………………………………….....................1
            1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………1
            1.3 Tujuan……………………………………………………………………………......1
   II. PEMBAHASAN
2.1 Cara di Siplin Ilmu Kewirausahaan…………………………………………………2.
2.2 Objek Studi Kewirausahaan………………………………………………………….3
2.3 Karakteristik dan Nilai-nilai Kewirausahaan…………………………………..…….4
2.4 Sikap dan Kepribadian  dalam Kewirausahaan……………………………………….6
2.5. Motif berprestasi dalam kewirausahaan…………………………………………..….7
   III. PENUTUP
            3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
`Kewirausahaan di Indonesia boleh dikatakan belum berkembang. Berdasarkan hasil penelitian seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS), David McClelland, suatu negara dapat dikatakan makmur, minimal harus memiliki jumlah wirausahawan sebanyak dua persen dari jumlah populasi penduduknya. Sedangkan jumlah wirausahawan di Indonesia hanya 0,18% nya. Sepertinya masyarakat di Indonesia masih belum bisa melepaskan corak agrarisnya dan enggan berinovasi untuk menciptakan lapangan kerja.
Makalah ini ditulis dengan tujuan membuka mata masyarakat Indonesia terutama kaula muda untuk berwirausaha karena adanya jumlah wirausahawan yang ideal dan memiliki pengabdian kepada negaranya merupakan salah satu komponen agar Indonesia bisa menjadi negara yang makmur dan sejahtera serta mampu bertahan dan bersaing dengan negara-negara lain.
 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara di siplin ilmu kewirausahaan ?
2. Apa saja objek studi kewirausahaan ?
3. Apa saja karakteristik dan nilai-nilai kewirausahaan ?
4. Bagaimana sikap dan kepribadian  dalam kewirausahaan ?
5. Bagaimana motif berprestasi dalam kewirausahaan ?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui cara di siplin ilmu kewirausahaan, untuk mengetahui beberapa objek dan studi kewirausahaan, untuk mengertahui beberapa karakteristik dan nilai-nilai kewirausahaan, sikap dan kepribadian dalam kewirausahaan, serta motif berprestasi dalam kewirausahaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Disiplin Ilmu Kewirausahaan
Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Dalam konteks bisnis, menurut Thomas W. Zimmerer (1996) “Entrepreneurship is the result of a disciplined,systematic process of applying creativity and innovations to needs and opportunitiesin the marketplace”. Kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.
 Dahulu, kewirausahaan dianggap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir (entrepreneurship are bom notmade), sehingga kewirausahaan tidak dapat dipelajari dan diajarkan. Sekarang, kewirausahaan bukan hanya urusan lapangan, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan. "Entrepreneurship are not only born but also made”, artinya kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi juga dapat dipelajari dan diajarkan.
Seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Memang menjadi entrepreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenal segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Dilihat dari perkembangannya, sejak awal abad ke-20 kewirausahaan sudah diperkenalkan di beberapa negara. Misalnya di Belanda dikenal dengan "ondernemer", di Jerman dikenal dengan "unternehmer".
Di beberapa negara, kewirausahaan memiliki banyak tanggung jawab antara lain tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepemimpman teknis, kepemimpinan organisasi dan komersial, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dan lain-lain. Kemudian, pada tahun 1950-an pendidikan kewirausahaan mulai dirintis di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika, dan Canada. Bahkan sejak tahun 1970-an banyak universitas yang mengajarkan "entrepreneurship" atau "small business management" atau "new venture management". Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan.
 Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan tuntutan perubahan yang cepat pada paradigma pertumbuhan yang wajar (growth-equity paradigm shift) dan perubahan ke arah globalisasi (globalization paradigm shift) yang menuntut adanya keunggulan, pemerataan, dan persaingan, maka dewasa sedang terjadi perubahan paradigma pendidikan (paradigm shift). Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat-kiat bisnis jangka pendek tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum dalam jangka panjang untuk menciptakan peluang.
Di bidang bisnis misalnya, perusahaan sukses dan memperoleh peluang besar karena memiliki kreativitas dan inovasi. Melalui proses kreatif dan inovatif, wirausaha menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa. Nilai tambah barang dan jasa yang diciptakan melalui proses kreatif dan inovatif banyak menciptakan berbagai keunggulan termasuk keunggulan pesaing. Perusahaan seperti Microsoft, Sony, dan Toyota Motor, merupakan contoh perusahaan yang sukses dalam produknya, karena memiliki kreativitas dan inovasi di bidang teknologi.
2.2 Objek Studi Kewirausahaan
            Seperti telah dikemukakan di atas, kewirausahaan mempelajari tentang nilai, kemarnpuan, dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi. Oleh sebab itu, objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan (ability) seseorang yang mewujudkan dalam bentuk perilaku.
Menurut Soeparman Soemahamidjaja (1997: 14-15), kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:
 (1) Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan, koreksi, yang kemudian berulang-ulang dibaca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya.
(2) Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala. (3) Kemampuan untuk berinisiatif, yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif.
 (4) Kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan peranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
(5) Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal (capital goods).
(6) Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.
(7) Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama.
 (8) Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari penga¬laman yang baik maupun menyakitkan.
2.3. Karakteristik Dan Nilai-Nilai Hakiki Kewirausahaan
Dalam mencapai keberhasilannya, seorang wirausaha memiliki ciri-ciri tertentu. Dalam "Entrepreneurship and Small Enterprise Development Report" (1986) yang dikutip langsung oleh M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993: 5) dikemukakan beberapa karakteristik kewirausahaan yang berhasil, di antaranya memiliki ciri-ciri:
(1) Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas (assertive).
(2) Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak (sees and acts) terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring.
(3) Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis.
Secara eksplismemperluas karakteristik sikap dan perilaku kewirausahaan yang berhasil sebagai berikut:
(1) Commitment and determination, yaitu memiliki komitmen dan tekad yang bulat untuk mencurahkan semua perhatiannya pada usaha. Sikap yang setengah hati mengakibatkan besarnya kemungkinan untuk gagal dalam berwirausaha.
(2) Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab baik dalam mengendalikan sumber daya yang digunakan maupun tanggung jawab terhadap keberhasilan berwirausaha. Oleh karena itu, akan mawas diri secara internal.
(3) Opportunity obsession, yaitu selalu berambisi untuk selalu mencari peluang. Keberhasilan wirausaha selalu diukur dengan keberhasilan untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan terjadi apabila ada peluang.
(4) Tolerance for risk, ambiguity, and uncertainty, yaitu tahan terhadap risiko dan ketidak¬pastian. Wirausaha harus belajar untuk mengelola risiko dengan cara mentransfer risiko ke pihak lain seperti bank, investor, konsumen, pemasok, dan lain-lain. Wirausaha yang berhasil biasanya memiliki toleransi terhadap pandangan yang berbeda dan ketidakpastian.
 (5) Self confidence, yaitu percaya diri. Ia cenderung optimis dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk berhasil.
 (6) Creativity and flexibility, yaitu berdaya cipta dan dan luwes. Salah satu kunci penting adalah kemampuan untuk menghadapi perubahan permintaan. Kekakuan dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia yang serba cepat sering kali membawa kegagalan. Kemampuan untuk menanggapi perubahan yang cepat dan fleksibel tentu saja memerlukan kreativitas yang tinggi. (7) Desire for immediate feedback, yaitu selalu memerlukan umpan balik yang segera. Ia selalu ingin mengetahui hasil dari apa yang dikerjakannya. Oleh karena itu, dalam memperbaiki kinerjanya, ia selalu memiliki kemauan untuk menggunakan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya dan selalu belajar dari kegagalan.
(8) High level of energy, yaitu memiliki tingkat energi yang tinggi. Wirausaha yang berhasil biasanya memiliki daya juang yang lebih tinggi dibanding rata-rata orang lainnya, sehingga ia lebih suka kerja keras walaupun dalam waktu yang relatif lama.
(9) Motivation to excel, yaitu memiliki dorongan untuk selalu unggul. Ia selalu ingin lebih unggul, lebih berhasil dalam mengerjakan apa yang dilakukannya dengan melebihi standar yang ada. Motivasi ini muncul dari dalam diri (internal) dan jarang dari eksternal
.(10) Orientation to the future, yaitu berorientasi pada masa yang akan datang. Untuk tumbuh dan berkembang, ia selalu berpadangan jauh ke masa depan yang lebih baik.
 (11) Willingness to learn from failure, yaitu selalu belajar dari kegagalan. Wirausaha yang berhasil tidak pernah takut gagal. Ia selalu memfokuskan kemampuannya pada keberhasilan. (12) Leadership ability, yaitu kemampuan dalam kepemimpinan. Wirausaha yang berhasil memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan (power), ia harus lebih memiliki taktik mediator dan negotiator daripada diktator.
2.4. Sikap Dan Kepribadian dalam kewirausahaan
Wirausaha berperan dalam mencari kombinasi-kombinasi baru yang merupakan gabungan dari lima proses inovasi yaitu menemukan pasar-pasar baru, pengenalan barang-barang baru, metode produksi baru, sumber-sumber penyediaan bahan-bahan mentah baru, serta organisasi industri baru. Wirausaha merupakan inovator yang dapat menggunakan kemampuan untuk mencari kreasi-kreasi baru. Dalam perusahaan, wirausaha adalah seorang inisiator atau organisator penting suatu perusahaan.
Menurut Dusselman (1989: 16), seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan ditandai oleh pola-pola tingkah laku sebagai berikut:
(1) Inovasi, yaitu usaha untuk menciptakan, menemukan dan menerima ide-ide baru.
 (2) Keberanian untuk menghadapi risiko, yaitu usaha untuk menimbang dan menerima risiko dalam pengambilan keputusan dan dalam menghadapi ketidakpastian.
(3) Kemampuan manajerial, yaitu usaha-usaha yang dilakukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, meliputi:
(a) Usaha perencanaan.
(b) Usaha untuk mengkoordinir.
(c) Usaha untuk menjaga kelancaran usaha.
(d) Usaha untuk mengawasi dan mengevaluasi usaha.
(4) Kepemimpinan, yaitu usaha memotivasi, melaksanakan, dan mengarahkan tujuan usaha.
David McDelland (1961: 205) mengemukakan enam ciri perilaku kewirausahaan, yaitu :
(1) Keterampilan mengambil keputusan dan mengambil risiko yang modest, dan bukan atas dasar kebetulan belaka.
(2) Energik, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif.
(3) Tanggung jawab individual.         
(4) Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolok ukur satuan uang sebagai indikator keberhasilan.
(5) Mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa datang.
(6) Memiliki kemampuan berorganisasi, meliputi kemampuan, kepemimpinan, dan manajerial.
Telah dikemukakan di atas bahwa wirausaha adalah inovator dalam mengom¬binasikan sumber-sumber bahan baru, teknologi baru, metode produksi baru, akses pasar baru, dan pangsa pasar baru (Schumpeter, 1934).
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik eksternal maupun internal. Menurut Sujuti Jahja (1977), faktor internal yang berpengaruh adalah kemauan, kemampuan, dan kelemahan. Sedangkan faktor yang berasal dari ekstenal diri perlaku adalah kesempatan atau peluang.
2.5 Motif Berprestasi dalam Kewirausahaan
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya suatu motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna kepuasan secara pribadi (Gede Anggan Suhandana, 1980: 55).
 Faktor dasarnya adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Teori motivasi pertama kali dikemukakan oleh Maslow (1934). la mengemukakan hierarki kebutuhan yang mendasari motivasi. Menurutnya, kebutuhan itu bertingkat sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological needs), kebutuhan dan keamanan (security needs), kebutuhan social (social needs), kebutuhan harga diri (esneeds), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization needs).
Wirausaha yang memiliki motif berprestasi tinggi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 (1) Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
 (2) Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan.
 (3) Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
(4) Berani menghadapi risiko dengan penuh perhitungan.
(5) Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fifty-fifty).
Wirausaha yang memiliki motivasi berafiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerja sama dari pada persaingan, dan saling pengertian. Menurut Stephen P. Robbins (1993: 214), kebutuhan yang kedua dan ketigalah yang erat kaitannya dengan keberhasilan manajer saat ini. Ahli psikologi lain, Frederick Herzberg (1987) dalam teori motivation-hygiene mengemukakan bahwa hubungan dan sikap individu terhadap pekerjaannya merupakan salah satu dasar yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang.
            Ada dua faktor dasar motivasi yang menentukan keberhasilan kerja, yaitu faktor yang membuat orang merasa puas (satisfaction) dan faktor yang membuat orang tidak merasa puas (dis¬satisfaction). Faktor internal yang membuat orang memperoleh kepuasan kerja (job-satis-faction) meliputi prestasi (achievement), pengakuan ( recognition), pekerjaan (the work itself), tanggung jawab (responsibility), kemajuan (advancement), dan kemungkinan berkembang (possibility of growth).
 Sedangkan faktor yang menentukan ketidakpuasan (dissatisfaction) adalah upah, keamanan kerja, kondisi kerja, status, prosedur perusahaan, mutu pengendalian teknis, mutu hubungan interpersonal (Gibson, 1990: 95).
Menurut Nasution (1982: 26), Louis Allen (1986: 70), ada tiga fungsi motif, yaitu:
(1) Mendorong manusia untuk menjadi penggerak atau sebagai motor yang melepaskan energi.
 (2) Menentukan arah perbuatan ke tujuan tertentu.
 (3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan untuk mencapai suatu tujuan dengan menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat bagi pencapaian tujuan itu.
Dalam "Entrepreneur's Handbook", yang dikutip oleh Yuyun Wirasasmita (1994:8), dikemukakan beberapa alasan mengapa seseorang berwirausaha, yakni:
(1) Alasan keuangan, yaitu untuk mencari nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebagai jaminan stabilitas keuangan.
(2) Alasan sosial, yaitu untuk memperoleh gengsi/status, untuk dapat dikenal dan dihormati, untuk menjadi contoh bagi orang tua di desa, agar dapat bertemu dengan orang banyak.
(3) Alasan pelayanan, yaitu untuk memberi pekerjaan pada masyarakat, untuk menata masyarakat, untuk membantu ekonomi masyarakat, demi masa depan anak-anak dan keluarga, untuk mendapatkan kesetiaan suami/istri, untuk membahagiakan ayah dan ibu.
 (4) Alasan pemenuhan diri, yaitu untuk menjadi atasan/mandiri, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, untuk menjadi lebih produktif, dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.
Menurut Zimmerer (1996: 3) ada beberapa peluang yang dapat diambil dari kewirausahaan, yaitu:
(1) Peluang untuk memperoleh kontrol atas kemampuan diri.
(2) Peluang untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki secara penuh.
(3) Peluang untuk memperoleh manfaat secara finansial.
(4) Peluang untuk berkontribusi kepada masyarakat dan menghargai usaha-usaha seseorang.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Kewirausahaan bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan sehingga banyak yang perlu dipelajari dan diperhatikan untuk menjadi seorang wirausahawan. Dewasa ini kewirausahaan sudah mulai berkembang diiringi oleh majunya teknologi, pengetahuan, dan faktor pendorong lainnya. Semoga dengan berjalannya waktu wirausahawan di Indonesia ini bisa bertambah dan membuat Indonesia sekahtera dan makmur.
DAFTAR PUSTAKA
http://alumnifatek.forumotion.com/t529-kewirausahaan-dan-daya-saing-bangsa
http://binaukm.com/2011/01/beberapa-alasan-mengapa-orang-menjadi-seorang-wirausahawan-pengusaha/pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files…/99012-2-122279741938.doc

http://www.reportasenews.com/berita-umum/ekonomi/07/2011/psf-dan-bid-network-dorong-kewirausahaan-10-kali-lipat.html
Tag : makalah
0 Komentar untuk "konsep dasar kewirausahaan"

Back To Top