Senin, 01 Mei 2017TMei 01, 2017

makalah akad murobahah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Saat ini banyak lembaga keuangan syariah yang berkembang dengan pesat dan menawarkan produk-produknya yang bermacam-macam pada masyarakat. Namun kebanyakan masyarakat belum mengetahui produk-produk yang di tawarkan oleh bank yang berbasis syariah ini. Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan membahas salah satu produk yang ada dalam lembaga keuangan syariah. Produk yang akan diulas dalam makalah ini adalah murabahah. Sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui jual beli yang di perbolehkan dalam syariah islam agar harta yang dimiliki halal dan baik. Seperti yang kita ketahui, jual beli adalah salah satu aspek dalam muamalah, dengan kaidah dasar semua boleh kecuali yang di larang. Apabila belum mengetahui apa saja yang di bolehkan dalam syariah, atau belum mengetahui suatu ilmumaka wajib untuk mencari tahu hal tersebut.
Murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli barang yang di kembangkan oleh perbankan syariah. Dalam perbankan syariah, murabahah mendominasi pendapatan bank dari produk-produk yang ada di semua bank Islam. Murabahah juga memberi banyak manfaat kepada Bank islam/Bank syariah, salah satunya adalah adanya keuntungan yang muncuk dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Aplikasi akad murobahah di LKS (lembaga keuangan syari’ah) ?
2.      Dasar hukum akad morobahah ?
3.      Jenis-jenis akad murobahah ?
4.      Rukun dan syarat akad murobahah ?
5.      Akad Murobahah dalam perbankan Islam ?
1.3  Tujuan
1.   Untuk memahami aplikasi akad murobahah di LKS (lembaga keuangan syari’ah)
2.   Untuk memahami dasar hukum akad morobahah
3.   Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis akad murobahah
4.   Untuk mengetahui rukun dan syarat akad murobahah
5.   Serta untuk mengetahui akad murobahah dalam perbankan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aplikasi Murobahah di LKS (lembaga keuangan syari’ah)
Pengertian Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual belikan, termasuk harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atasnya laba atau keuntungan dalam jumlah tertentu. Definisi lain murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. (Muhammad, 2009:57)
Dalam murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian secara pemesanan dan biasa disebut sebagai murabahah kepada pemesan pembelian (KPP). (Muhammad, 2009:57)
Fatwa DSN Tentang Ketentuan Murabahah
Pembiayaan murabahah telah diatur dalam Fatwa DSN No. 04/DSN- MUI/IV/2000. Dalam fatwa tersebut disebutkan ketentuan umum mengenai murabahah, yaitu sebagai berikut:
-          Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
-          Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syari’at Islam.
-          Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati
kualifikasinya.
-          Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
-          Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
-          Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual
senilai harga plus keuntungannya.
Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang kepada pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.
Aturan yang dikenakan kepada nasabah dalam murabahah ini dalam fatwa adalah sebagai berikut:
Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset
kepada bank. Jika bank menerima permohonan tersebut ia harus membeli terlebih dahulu asset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. Bank kemudian menawarkan asset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka:
(1) jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga; atau
 (2) jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya. (Widyaningsih,2005:106)
Murabahah merupakan bagian terpenting dari jual beli dan prinsip akad ini mendominasi pendapatan bank dari produk-produk yang ada di semua bank islam. Dalam islam, jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia yang diridhai oleh Allah SWT. "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS. Al-baqarah :275).[1]
Rasulallah SAW. Bersabda: "kaum muslimin boleh melangsungkan sesuatu berdasarkan ketentuan yang mereka tetapkan". (HR. Abu daud & Hakim)

2.2 Dasar Hukum Murobahah
Dalam islam,perdagangan dan perniagaan selalu dihubungkan dengan nilai-nilai moral,sehingga semua transaksi bisnis yang bertentangan dengan kebajikan tidaklah bersifat islami.
Al-Qur'an
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka rela diantaramu. . . . ." (QS.4:29)
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS.2:275)
•Al-Hadist                                                   
Dari Abu Sa'id Al-Khudri , bahwa Rasullulah Saw bersabda: "Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka".(HR.al-Baihaqi,Ibnu Majah dan Shahi menurut Ibnu Hibban)

2.3 Jenis-jenis Murobahah
      1.Murabahah Berdasarkan Pesanan (Murabahah to the purcase order)
Murabahah ini dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat. Mengikat bahwa apabila telah memesan barang harus dibeli sedangkan tidak mengikat bahwa walaupun telah memesan barang tetapi pembeli tersebut tidak terikat maka pembeli dapat menerima atau membatalkan barang tersebut .
      2.Murabahah Tanpa Pesanan
Murabahah ini termasuk jenis murabahah yang bersifat tidak mengikat. Murabahah ini dilakukan tidak melihat ada yang pesan atau tidak sehingga penyediaan barang dilakukan sendiri oleh penjual.[2]

2.4 Rukun dan Syarat Murabahah
a. Penjual (Ba’i)
Penjual merupakan seseorang yang menyediakan alat komoditas atau barang yang akan dijual belikan, kepada konsumen atau nasabah.
b. Pembeli (Musytari)
Pembeli merupakan, seseorang yang membutuhkan barang untuk digunakan, dan bisa didapat ketika melakukan transaksi dengan penjual.
c. Objek Jual Beli (Mabi’)
Adanya barang yang akan diperjual belikan merupakan salah satu unsure terpenting demi suksesnya transaksi. Contoh: alat komoditas transportasi, alat kebutuhan rumah  tangga dan lain lain.
d. Harga (Tsaman)
Harga merupakan unsur terpenting dalam jual beli karena merupakan suatu nilai tukar dari barang yang akan atau sudah dijual.
e. Ijab Qabul
Para ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa unsur utama dari jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak, kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab qobul yang dilangsungkan. Menurut mereka ijab dan qabul perlu diungkapkan secara jelas dan transaksi yang bersifat mengikat kedua belah pihak, seperti akad jual beli, akad sewa, dan akad nikah. (Karim, 2001:94)
Syarat Ba’I Al-Murabahah
a). Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah. Bank harus memberitahu secara jujur berkaitan dengan harga pokok pembiayaan dan harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
b). Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan. Kontrak harus bebas dari riba. Transaksi yang dilandaskan dengan hukum Islam merupakan syarat utama dalam pembiayaan diperbankan syari’ah. Usaha yang halal merupakan satu satunya transaksi yang dilakukan bank islam.
c). Penjual harus menjelaskan pada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesuai pembelian. Maka bank harus menjelaskan kualitas barang yang akan diperjual belikan, baik dari segi fisik dan kelayakan nilai suatu barang agar mendapat kepuasan pembelian yang dilakukan oleh nasabah.
d). Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
Secara prinsip, jika syarat dalam (a), (d), (e) tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:
-          Melanjutkan pembelian seperti apa adanya.
-          Kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijual.
-          Membatalkan kontrak.
Jual beli secara al-murabahah diatas hanya untuk barang atau produk yang telah dikuasai atau dimiliki oleh penjual pada waktu negosiasi dan berkontrak. Bila produk tersebut tidak dimiliki oleh penjual, sistem yang digunakan adalah murabahah kepada pemesan pembelian (murabahah KPP). Hal ini dinamakan demikian karena si penjual semata-mata mengadakan barang untuk memenuhi kebutuhan si pembeli yang memesannya (Hasan, 1991:35).

2.5 Murabahah dalam perbankan Islam
Bank-bank Islam umumnya mengadopsi murabahah untuk memberikan pembiayaan jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun mungkin nasabah tidak memiliki uang untuk membayar pada saat itu. Murabahah, sebagaimana yang digunakan dalam perbankan Islam, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok yaitu terkait dan kesepakatan atas labanya (mark up).
Dengan demikian, ciri-ciri mendasar yang dapat disimpulkan pada kontrak murabahah (jual beli dengan pembayaran tunda) ini adalah sebagai berikut :
-          Pihak pembeli harus memiliki pengetahuan tentang harga awal dari barang yang dijual pihak bank, biaya-biaya terkait dengannya dan batas laba (mark-up) yang ditetapkan dalam bentuk prosentase dari total harga plus biaya-biayanya.
-          Obyek yang diperjual-belikan adalah berupa barang atau komoditas dan harus dibayar
dengan uang.
-          Obyek yang diperjual-belikan harus ada dan dimiliki oleh pihak penjual atau wakilnya dan dapat diserahkan secara langsung.
-          Pembayaran yang dilakukan oleh pihak pembeli dapat ditangguhkan (angsuran). (Muhammad, 2004:93)
Sejumlah alasan diajukan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan Islam yaitu: Murabahah adalah suatu mekanisme ivestasi jangka pendek, menggunakan sistem Profit and Lost Sharing (PLS), dan proses cukup mudah. Mark-up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank yang berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank Islam. Murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS (Karim, 2001:94).




BABIII
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa Murabahah merupakan transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Terdapat 2 Jenis. Murabahah yaitu Murabahah dengan pesanan dan Murabahah tanpa pesanan. Selain itu terdapat rukun dan ketentuan dalam akad murabahah yaitu Pelaku, objek jual beli, dan ijab kabul. Dan ada cara pembayaran dalam murabahah yaitu secara tunai dan tangguh. Adapun Syarat pembiayaan murabahah yaitu Bank Islam/LKS harus memberitahu biaya modal kepada nasabah, kontrak pertama harus syah sesuai dengan rukun yang di tetapkan, kontrak harus bebas dari unsur riba. Murabahah juga memberi banyak manfaat kepada Bank islam/Bank syariah, salah satunya adalah adanya keuntungan yang muncuk dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah.

DAFTAR PUSTAKA
Wiroso SE.MBA.(2005).Jual Beli Murabahah.Yogyakarta : UII Press Yogyakarta.
Muhammad, 2009. Model-model Akad Pembiayaan di Bank Sharia, UII Pres, Yogyakarta.
Hasan, A, 1991. Bulughul Maraam, Bangil : CV Pustaka Tamam.





[1] Wiroso,SE,MBA Jual Beli Murabahah hal 14
[2] Wiroso,SE,MBA ,Jual Beli Murabahah hal 37-38
Tag : makalah
0 Komentar untuk "makalah akad murobahah"

Back To Top